Davy & Elias, Indonesia

Davy's main page
Elijah Challenge Seminar in Lippo Cikarang Bekasi, May 2007
Menerobos ICU untuk mujizat (Breaking into the ICU for a miracle)

 




End Time Evangelism

Latest Kingdom Victories

Ministry Schedule

Historic Meetings

Teachings

Featured Essays

Those Who Have Been Trained

About us

The Esther Challenge

Elijah Challenge Asia

 

 

Servants of God Davy & Elias were initially trained in The Elijah Challenge Seminar in 2002 in Indonesia

In late 2003 The Elijah Challenge held a Seminar and Crusade for the purpose of reaching the world’s largest unreached people group. This people group living in the 1040 Window was known to be very gospel-resistant when approached with traditional evangelistic methods. In the Seminar we trained the servants of God how to heal the sick in the name of Jesus Christ to prove to the lost that He is the only way to the Father. At the ensuing evangelistic healing meeting, a number of these unreached people came to hear the gospel and to witness the many miraculous healings done in the name of Jesus Christ. Some of them were healed and they also testified. As a result, over one-half of these unreached people attending the meeting made the decision to follow Jesus Christ as their only Lord and Savior.

They were not asked to renounce their own religion (and culture) in a formal way and then to convert publicly to the organized religion called Christianity, known to their community as the “imperialist colonizers' religion.” (The country where this people group lives was occupied and exploited by Europeans for 350 years.) They remained outward adherents of their religion, but as born-again followers of Jesus Christ. They worshipped God and were discipled according to the teachings of the Bible not in a church building, but in homes.

In this way, Elias and Davy and their workers have now reached thirty villages of this unreached people group for the Kingdom of God. Even religious and civic leaders of this people group are now becoming disciples of Jesus Christ. They are initially drawn by the manifestations of miraculous healing power that Jesus Christ gives to His disciples to be effective witnesses. The Lord has done other miracles to open up this "unreachable" people group to His Kingdom. He has given them supernatural dreams and visions about Jesus Christ. He has demonstrated His clear favor upon those who believe.

Someday soon this “unreached” people group will be re-classified by missiologists as “reached.” No, they will not have been “christianized,” something Christ did not necessarily intend. Rather, they will have in their midst---their own community---a powerful body of believers that can potentially fulfill the Great Commission to them.

Indonesian translation:

Pada akhir tahun 2003, pelayanan The Elijah Challenge mengadakan Seminar and KKR untuk menjangkau suku terabaikan terbesar di dunia yang belum mengenal Injil di salah satu negara di Asia Tenggara. Suku ini terdiri dari empat puluh lima juta orang pemeluk agama lain yang dikenal sangat menentang Injil bila dijangkau dengan metode-metode penginjilan tradisional. Di dalam Seminar tersebut kami melatih para hamba Tuhan bagaimana menyembuhkan orang sakit di dalam nama Yesus Kristus untuk membuktikan kepada orang-orang beragama lain bahwa Ia adalah satu-satunya jalan menuju kepada Bapa.

Seusai ibadah penginjilan dan penyembuhan, sejumlah orang dari agama lain ini datang dan mendengar Injil dan menyaksikan mujizat kesembuhan yang dilakukan di dalam nama Yesus Kristus. Beberapa dari mereka bahkan disembuhkan dan memberi kesaksian. Sebagai hasilnya, lebih dari separuh orang penentang Injil yang hadir di kebaktian itu mengambil keputusan untuk mengikut Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka.

Mereka tidak diminta untuk menyangkal agama mereka (dan juga budaya mereka) secara formal lalu berpindah agama di depan umum menjadi pemeluk agama terencana yang disebut "Kekristenan", yang selama ini dikenal oleh masyarakat mereka sebagai "agama penjajah". Di luar, mereka tetap tampak sebagai pemeluk agama mereka yang setia, namun kini mereka adalah pengikut Isa Almasih yang telah lahir baru. Mereka menyembah Allah dan dimuridkan sesuai dengan ajaran Alkitab bukan di gedung gereja, melainkan di rumah-rumah.

Dengan cara ini, Elias dan Davy beserta tim mereka telah menjangkau dua puluh empat desa suku tak terjangkau ini bagi Kerajaan Allah. Bahkan para pemimpin agama mereka kini telah menjadi murid Isa. Pada awalnya mereka tertarik oleh manifestasi kuasa mujizat kesembuhan yang diberikan oleh Isa kepada para muridNya untuk menjadi saksi-saksi Kristus yang efektif.

Suatu hari kelak suku "terabaikan" (tak-terjangkau) ini akan dijabarkan ulang oleh para ahli missiologi menjadi suku yang "terjangkau". Bukan, mereka bukannya telah di "kristenisasi", karena Kristus pun tidak bermaksud demikian. Akan tetapi di tengah mereka, pada komunitas mereka sendiri, mereka akan memiliki suatu tubuh orang percaya yang penuh kuasa yang secara potensial dapat memenuhi Amanat Agung yang diberikan pada mereka.

 


 

Davy wrote:

"Saya sepanjang minggu ini tidak kebetulan sedang merenungkan pelayanan dengan otoritas kuasa kesembuhan seperti yang diajarkan. Saya melihat begitu banyak kesia-sian terjadi di sekitar saya karena ketidaktahuan akan kuasa Tuhan. Salah satu rekan dosen dalam perguruan tinggi yang baru menikah beberapa bulan, disuruh melakukan aborsi oleh dokternya karena dia sakit perut dan takut obat-obatan akan menggangu janinnya. Sayang sekali nasihat itu dituruti. Kedua, minggu yang lalu saya mendengar adik dari kakak ipar saya saya menerima nasihat dokter atas pengangkatan satu payudaranya karena kanker ganas. Saya sedih seandainya saya bisa lakukan sesuatu sebelum itu terjadi. Akhirnya saya bertekad untuk memperluas pengajaran tentang otoritas kesembuhan kepada seluruh jemaat, relasi dan siapa saja untuk mereka mendapat karunia dari Tuhan selain keselamatan yang mereka terima.

Kemudian, hari rabu yang lalu satu anggota jemaat saya pulang ke Manado karena papanya kena penyakit kronis magh dan telah merembet ke syaraf pada bagian tangan dan kaki juga mukannya sehingga sempat mengalami koma. Karena tidak mengalami kemajuan yang berarti dalam perawatan di rumah sakit. Saya berdoa dan ambil keputusan untuk menawarkan kepada keluaga untuk mengusir sakit penyakit lewat telepon (dulu pernah saya lakukan kepada papa saya yang masih sehat sampai sekarang). Dan tengah malam kami melakukan itu. Dengan hanya menggunakan handphone yang ditaruh ditelinga orang yang sakit, saya mengambil otoritas dalam nama Yesus atas sakit penyakit dan kuasa iblis yang mungkin menyakiti orang itu. Hasilnya terjadi perubahan yang dasyat seketika. Tangan dan kaki yang tadinya sudah tidak bisa digerakan, langsung bisa, bahkan ia berdiri, dan mulai dapat berbicara. Ia tidur dan diperiksa darah. Besoknya hasilnya darah menjadi normal semua dan ia mengalami kemajuan yang sangat berarti. Sekarang dalam proses kesembuhan total. (Hanya perlu terapi sedikit untuk aktifkan syaraf yang sempat kaku).

Satu informasi yang baik saya mendengar bahwa salah satu dosen di Bandung telah mengalami kesembuhan dari penyakit yang sudah dipastikan akan merebut nyawanya (latar belakang agama lain). Waktu itu ia datang pada saat KKR kami dan sempat dilayani oleh saya. Sesudah beberapa lama saya tidak ketemu dia dan baru mendengar bahwa sekarang ia sudah mengajar dengan normal.

Hari minggu saya mengumpulkan seluruh jemaat dan memutar kembali rekaman pengajaran yang pernah disampaikan. Saya menantang mereka untuk bergerak dan bertindak karean kuasa Tuhan sungguh nyata. Banyak orang Indonesia saat ini butuh pelayanan kesembuhan akibat penyakit yang datang beruntun seperti demam berdarah, flu burung, dsb.

Jadi saya sedang berpikir untuk lebih giat lagi dalam mengajarkan apa yang saya sudah ketahui lewat pelayanan Tantangan Elia ini."

Oleh Davy

 

 


 

Davy's Evangelistic Healing Service in Lippo Cikarang Bekasi in West Java after teaching The Elijah Challenge to the believers

"At the meeting on May 18, 2007 there were 300 people. After the praise and worship I preached briefly on the topic “It’s Time to Choose What is Best.” I emphasized that this is the moment that we should be like Mary who longed for teaching from the Lord and pursued what was eternal…not like Martha who was busy working and serving. Afterwards I cited the account of Jairus whose daughter was sick and near death but the Lord told him to put his trust in Him. Finally I said that Jesus wants us to believe in His works. I told them: before I invite you to believe in Jesus, I want to prove that He is alive. Today there is going to be healing for those who are infirm. If nothing happens, they do not need to believe in Jesus. If something does happen they should not play around but believe completely in Jesus. After that we ministered to the infirm.

Those who were trained were asked to come to the front and the infirm were also asked to come forward. Those who were healed were asked to testify. The results were extraordinary. One by one people came to the front to testify. There were some who had pain in their neck and body who were totally healed. A heart condition. One person who could not see clearly could see well. I counted three or four who had impaired hearing who could hear normally, including one who was born deaf and mute. There was one whose neck bone and backbone were out of place because of an accident and his vertebra went back into place. A hemorrhoid shrank. A tumor disappeared. And many others…The Lord Jesus is alive.

While others were still ministering to the infirm, I went to the front and challenged the people to make the decision to believe in Jesus, to make a total commitment to repent and follow Jesus. Almost everyone there raised their hands and prayed the prayer of repentance, receiving salvation in Christ. I know that there were a lot of new people, people from other beliefs who were there and they all make the decision to believe. The Lord Jesus is great.

I hope that many churches will follow this model. My host Pastor Yuserdy then closed the service with prayer and vowed to complete the healing of some people who were not totally healed by ministering to them privately. I noticed that there were three people left who were not yet healed and these were difficult cases. Two had suffered from strokes. One was missing an eye. But the important thing was that they all made the decision to receive the Lord Jesus. Two were Muslims and one Chinese person from the traditional Chinese religion. Let’s pray for these two churches---GKKD in Bekasi and New Covenant Christian Church in Lippo Cikarang that more and more miraculous signs will accompany their ministry. They will hold an Evangelistic Healing Service once every two months by themselves without me. This is by faith!

My wife and five children and I, Brother Elias and his wife along with the two church members that we brought along went home rejoicing because the Lord had been present in the first [Elijah Challenge] that we have conducted. We are ready for the next opportunity to minister---proclaim the Kingdom of God, equip the soldiers of Christ, and healing the sick for His glory."

The original message (the report on the Evangelistic Healing Service only, not the Equipping Seminar) is below:

Seminar Tantangan Elia di Lippo Cikarang Bekasi, Jawa Barat

"Puji Tuhan Yesus Kristus yang hidup dan tetap sama dahulu sampai sekarang. Saya ingin memberikan laporan pendahuluan secara singkat tentang apa yang terjadi di seminar dan acara KKR tangal 17-18 Mei 2007 lalu di Lippo Cikarang Bekasi.

Saya bersyukur mendapat kepercayaan dari [---] untuk mengadakan seminar Pemulihan Kuasa dan Keberanian di Lippo Cikarang dengan Host Pdt. Juserdi Purba dari GKKD Bekasi. Acara seminar berlangsung di GKPB Lippo Cikarang berkat kebaikan hati dari Pdt Thomas menyediakan tempatnya untuk dipakai Seminar dan KKR.

Seminar di hadiri sekitar 100 orang . Acara seminar itu sendiri di bagi dalam empat sesi. Sesi pertama dimulai jam 9.00 . saya membagikan tentang Roh Elia yang akan dicurahkan. Gereja memerlukan Roh Elia yang tidak takut untuk menghancurkan perbuatan setan dan menyembuhkan penyakit. Roh keberanian seperti halnya Daud yang berani melawan Goliat. Fokus pelayanan Tantangan Elia adalah memberitakan Injil dengan dukungan bukti kesembuhan. Bentuk berdoa cara lama saya anjurkan dengan jelas agar segera diubah. Dalam sesi ini saya melihat orang-orang mulai terimpartasi kuasa Tuhan. Berbagai kesaksian yang kami alami di Jawa Barat bersama pelayanan [---] saya ceritakan dan ditutup dengan kesaksian dari Pdt. Elyas Parera.

Sesi kedua sekitar jam 11. Saya mengfokuskan kepadan Iman yang memindahkan gunung, iman yang dari Allah; Perbedaan dengan iman kepada Allah yang menyangkut keselamatan; Empat alasan orang beri sewaktu mereka tidak dapat menyembuhkan orang, padahal alasan utama adalah takut. Yesus tidak pernah ragu dalam melakukan sesuatu karena dia memiliki iman yang dari Allah. Pada sesi kedua ini kami mendemostrasikan kesembuhan. Setelah itu saya mengundang lima orang yang merasa sakit pada saat ini. Dan kami demostrasikan kesembuhan. Pada saat ini 3 orang sembuh total dan dua mengalami perbaikan. Pertama yang sakit pinggang dan kaki . Kedua sakit jantung. Ketiga sakit paru-paru. Orang-orang semakin antusias.

Setelah makan siang kami lanjutkan sesi ketiga pada jam 14.00. Sesi ini dimulai dengan pemutaran Video Pelayanan Sunda pelayanan JIMAS selama 7 menit untuk orang-orang mengeriti bahwa melalui kesembuhan ilahi banyak orang telah dimenangkan. Pada sesi ketiga ini saya mngfokuskan pada kesembuhan masal atau kesembuhan jarak jauh. Beberapa kesaksian yang pernah saya alami dalam penyembuhan lewat telepon saya sampaikan kepada mereka . Kemudian saya membagikan dasar Alkitabiah yang ada yaitu tentang perwira yang meminta Yesus menyembuhkan bawahannya. Saya sampaikan bahwa kita telah memiliki otoritas atas bawahan kita yaitu setan-setan, penyakit-penyakit dan dosa-dosa. Kemudian kita buat demostrasi kesembuhan jarak jauh. Saya mengundang seseorang yang sakit untuk maju dan berdiri di kiri depan panggung. Kemudian satu sukarela berdiri di ujung kanan panggung. Dia melakukan penyembuhan dari jarak jauh terhadap orang yang sakit sesak napas. Usaha pertama , langsung membuat dada wanita yang mengalami perubahan dan usaha kedua membuat kesembuhan total... Demostrasi jarak jauh kedua , adalah orang yang memiliki benjolan pada pipi. Dan ia juga merasakan pipinya tidak sakit lagi.. Puji Tuhan. Tuhan bekerja dengan luar biasa, sehingga membuat para peserta lebih semangat dan membara untuk segera memberitakan Injil.


Sesi Keempat, adalah sesi terakhir. Saya memutar video singkat, rekaman foto-foto pelayanan Elijah Challenge di Indonesia dengan background sound lagu ”Ku tahu Bapa pliharaku” dan Kumau cinta Yesus selamanya”. Membuat orang-orang berusyukur bahwa bola Salju Kesembuhan model baru pada akhir jaman ini sedang bergulir dari kota –kota laksana bola Salju. Pada sesi terakhir ini saya membagikan keseimbangan untuk tetap mendahulukan hubungan dengan Tuhan dan hidup kudus. Mengejar buah-buah Roh. Untuk selalu rendah hati dan jangan sombong kalau otoritas berbagia tanda mujizat bersama kita sewaktu kita melayani. Akhirnya bahannya selesai. Saya kemudian mengundang beberapa orang untuk maju ke depan dan memberikan Feedback apa yang mereka dapatkan dalam semua sesi. Saya terharu bahwa mereka membagikan hal-hal yang menguatkan saya. Semuanya bersaksi bahwa mereka mendapatkan hal yang baru dan luar biasa. Terakhir, kita semua gembala jemaat melakukan doa penumpangan tangan kepada setiap peserta agar mereka mendapatkan impartasi Roh Elia. Hadirat Tuhan sungguh nyata dan banyak orang terharu.

KKR (this section translated into English above)

Tanggal 18 Mei 2007, jam 17.30 KKR di mulai yang dihardiri oleh 300 orang. Setelah waktu Praise & Worship saya berkotbah singkat dengan judul Waktu untuk memilih yang terbaik. Saya menekankan bahwa ini saatnya kita jadi Maria yang rindu mendengar pengajaran dari Tuhan dan mengejar yang kekal. Tidak jadi seperti Marta yang sibuk2 bekerja atau melayani . Kemudian mengutiop kisah Yairus yang memiliki anak yang sakit dan hampir mati tapi Tuhan mengatakan percaya saja. Akhirnya saya mengatakan bahwa Yesus ingin kita percaya akan perbuatan-perbuatanNya. Saya berkata, sebelum saya mengundang saudara untuk percaya kepada Yesus , saya ingin membuktikan bahwa Ia hidup. Hari ini akan ada penyembuhan bagi yang sakit. Jika tidak terjadi sesuatu mereka tidak perlu percaya pada Yesus. Jika terjadi sesuatu jangan main-main , percaya sepenuhnya pada Yesus. Kemudian kami melakukan pelayanan penyembuhan. Orang-orang yang telah ditraining di suruh ke depan dan yang sakit disuruh juga maju. Bagi mereka yang telah sembuh dipersilahkan bersaksi. Hasilnya luar biasa. Satu per satu orang maju ke depan untuk bersaksi. Ada yang sakit, di bagian leher dan badan , sembuh total. Sakit Jantung. Kurang penglihatan bisa melihat. Saya menghitung ada tiga atau empat orang yang mengalami susah pendengaran bisa mendengar termasuk satu orang yang tuli bisu sejak lahir. Ada yang mengalami kecelakaan tulang bergeser pada leher dan punggung , bisa kembali normal. Sakit ambein bisa mengecil. Tumor yang mengempes. Dan masih banyak lagi. Tuhan Yesus hidup.

Sementara yang lain masih menyembuhkan orang, saya maju ke depan dan menantang para hadirin, untuk ambil keputusan percaya kepada Yesus. Komitmen total untuk bertobat dan ikut Yesus. Hampir semua orang mengangkat tangan dan mengikuti doa pertobatan dan menerima keselamatan dalam Yesus Kristus. Saya tahu banyak orang baru, orang dari kepercayaan lain yang hadir dan mereka semua ambil keputusan untuk percaya... Tuhan Yesus dahsyat..... Saya harap banyak gereja mencontoh model ini. Pak Yuserdi kemudian menutup KKR dengan doa dan janji, untuk mentuntaskan beberapa orang yang belum sepenuhnya sakit untuk dilayani secara pribadi. Saya perhatikan tinggal 3 orang yang belum sembuh dan ini adalah kasus berat. Dua orang yang kena stroke. Satu orang yang tidak punya mata sebelah. Tapi paling penting mereka semua ambil keputusan untuk menerima Tuhan Yesus. Dua dari Muslim satu dari Kong Hu Chu. Mari dukung doa untuk pelayanan GKKD Bekasi dan GKPB Lippo Cikarang supaya semakin banyak tanda ajaib yang menyertai pelayanan mereka. Mereka akan melakukan KKR kesembuhan tiap 2 bulan tanpa saya. Luar biasa. Ini adalah tindakan iman! Saya istri saya, kelima anak saya, Pak Elias dan Istri, serta dua orang jemaat yang saya sertakan pulang dengan gembira karena Tuhan telah menyertai pelayanan perdana kami. Kami siap untuk pelayanan selanjutnya...Memberitakan Kerajaan Allah, melatih para prajurit Kristus, dan menyembuhkan penyakit untuk kemuliaanNya."

Oleh Davy

 

August 29, 2007

Menerobos ICU untuk mujizat

Hari Minggu tanggal 20 Agustus 2007 lalu saya mendapat sms dari sepupu saya bahwa ayahnya yang juga paman saya kena serangan jantung dan sekarang dilarikan di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta.

Karena saya tinggal di Bandung saya tidak sempat membesuknya segera tapi hari Selasa pagi tangal 22 Agustus baru saya ke Jakarta.

Maksud saya sebelumnya adalah secepat mungkin mendoakannya supaya tidak terjadi hal yang lebih buruk. Tapi karena saya harus menguji sidang mahasiswa maka saya baru bisa ke sana kamis pagi tanggal 24 Agustus 2007. Saya teringat sewaktu Yesus sempat molor untuk dapat melayani Lazarus. Seperti Yesus saya mau beriman bahwa Tuhan akan melakukan sesuatu.

Sesampainya di rumah sakit saya mendapati bahwa Paman saya sudah cukup parah. Saya mendapat cerita bahwa sehari sebelumnya dia mendapat dua kali serangan jantung . Kejadiannya cukup parah sampai-sampai jantungnya sudah berhenti dan sudah tidak bernapas lagi. Dengan bantuan kejut listrik dia bisa kembali bernapas.

Belum sempat saya mendoakannya saya sudah melihat frekwensi serangan jantung sudah semakin cepat. Dan saya menemukan bahwa Paman itu sudah sekarat.

Saya dan Ibu Destie (nama dari sepupu saya) kemudian menghadap dokter ahli yang menjaga paman saya tersebut. Dokter itu menjelaskan bahwa telah terjadi kerusakan pada kemampuan memompa jantung sehingga dia bakal kena serangan jantung secara mendadak. Kondisinya sangat memprihatinkan karena hanya dengan pertolongan kejut listrik saaj dia bisa sadar lagi. Menurut dokter salah satu penemuan dunia kedokteran dalam kasus seperti ini tinggal satu yaitu membeli suatu peralatan semacam robot kecil yang ditaruh dalam tubuh. Alat itu secara otomatis memberi kejut listrik jika pasien kena serangan jantung dan jantungnya berhenti. Sayang alat tersebut sangat mahal , nilainya sekitar 160 juta rupiah.

Kami kaget , dan saya membayangkan begitu mahalnya harga kesehatan kita.

Karena alat itu sangat mahal kami tidak menyetujui untuk memakai alat tersebut.

Sore kondisi Paman saya semakin parah dan dokter memindahkannya ke ruang ICU . Di sana dia dikontrol penuh oleh suster dan dokter serta sudah ditempel berbagai alat recording secara penuh.

Beberapa saat kemudian karena serangan jantung semakin tinggi frekwensinya maka dpkter memanggil kami.

Dokter memberitahukan kami bahwa kondisi paman itu sudah sangat parah. Mereka tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Dokter memberitahukan supaya keluarga siap kalau-kalau terjadi sesuatu.

Kami keluar keluar tunggu dan mulai membahas. Kedua anak paman berdiskusi dengan saya. Mereka sudah mulai menangis.

Kemudian saya mendapat hikmat dari Tuhan untuk berkata demikian, " Papi kalian menurut dokter jantungnya sudah mati sebelah dan fungsinya tinggal 15 persen. Jadi menurut saya cuma ada dua kondisi."

Saya katakan selanjutnya, " Kondisi pertama adalah Papi kalian sudah saatnya dipanggil Tuhan. Kondisi kedua, hanya mujizat dari Tuhan lah yang dapat menyembuhkan. Tiada yang mustahil bagi Dia."

Saya mengatakan juga bahwa kalau kondisi pertama itu terjadi maka kita sekarang seharusnya sia-siap. yang paling penting adalah supaya paman mereka siap secara rohani. Dia perlu sungguh3 bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Mereka berdua setuju. Kemudian saya mengatakan bahwa saya harus mengambil kesempatan untuk menginjilinya dalam detik-detik terakhir.

Dan saya memberitahu mereka juga, kalau kondisi kedua memungkinkan terjadi. Jadi saya akan menumpangkan tangan dan mengusir penyakit jantung itu.

Permasalahannya Paman tersebut sudah berada dalam ruangan ICU dan kita tidak boleh mendekat lagi.

Akhirnya kita bertekad ke sana apapun yang terjadi walaupun kami harus menerobos masuk ruang ICU.

Saya dan Destie kemudian masuk ke ruang ICU tanpa permisi (karena kalau minta izin mungkin tidak akan diizinkan) dan saya meminta paman saya untuk bertobat dan mengampuni orang lain sertai percaya sungguh-sungguh bahwa Yesus adalah Tuhan Juruselamatnya. Paman mengiyakan dan mengatakan" Ya memang saya harus mengampuni orang lain supaya berkendan kepada Tuhan."

Saya mendoakan pertobatan dan percaya sepenuhNya kepada Yesus. Setelah itu saya menumpangkan tangan pada bagian dada dan mengambil otoritas penuh atas sakit jantung tersebut.

Saya hanya perhatikan dia tersenyum dan menarik napas lega.. jelas Tuhan sudah menjamahnya.

Setelah itu saya pulang ke Bandung...

Sejak hari Kamis minggu lalu di mana saya mendoakan keselamatan dan mengusir sakit penyakitnya. Kondisinya langsung membaik dan tidak ada serangan jantung lagi.

Saya terus kontak lewat telepon tapi sampai saat ini saya menulis (rabu malam 29/8/2007) paman tersebut sudah membaik. Mujizat Tuhan turun atasnya.. Dia selamat secara rohani dan menerima keselamatan kekal dan juga dapat bonus masih bisa menjalani kehidupan walaup umurnya sudah 71 tahun.

Pulangnya saya banyak merenungkan kejadian tersebut. Saya sadar kita pun sewaktu-waktu dapat meninggal. Kita harus memberitahkan Injil kepada orang-orang sekitar kita kapanpun waktunya siap atau tidak siap. Kalau saya tidak berani untuk masuk menerobos ICu mungkin kejadianya akan lain.

Saya harap Saudara memahami bahwa kitapun dapat meninggal sewaktu-waktu. Pertanyaannya apa yang kita kejar saat ini? Jangan sia-siakan waktu untuk menginjili mereka yang belum percaya dan tanda-tanda ajaib akan menyertai mereka yang percaya. Tidak ada yang mustahil bagiu Tuhan dan bagi mereka yang percaya.

Saudara dapat melakukan yang sama, menginjili orang dekat kita yang belum percaya dan mengusir penyakit yang dideritanya di dalam Nama Yesus dan segala kemulian hanyalah bagi Dia.