Pastor Davy
Elijah Challenge Coordinator, Indonesia

Pastor Davy's main page
Menerobos ICU untuk mujizat


 



End Time Evangelism

Latest Kingdom Victories

Those Who Have Been Trained

Historic Meetings

Teachings

Featured Essays

Ministry Schedule

About us

The Esther Challenge

Elijah Challenge Asia

Regional Elijah Challenge Affiliates

 

 


Breaking into the ICU for a Miracle (Original testimony in Indonesian below)

On Sunday, August 20, 2007 I received a text message from my cousin that her father (my uncle) had suffered from a heart attack. He was taken to a hospital in Jakarta which specialized in heart disease.

Because I lived in another city (Bandung) I was not able to see him right way. It was not until the following Tuesday that I went to Jakarta.

At first I intended to minister to him as soon as possible so that nothing worse would happen to him. But because I was delayed I was not able to get to him until Thursday morning. I remembered how Jesus waited before raising Lazarus. I wanted to have faith that the Lord would do something.

After arriving at the hospital I found that my uncle’s condition was serious. I was told that on the previous day he had two more heart attacks. It was so bad that his heart had stopped beating and he stopped breathing. After receiving electrical shocks he started breathing again.

Even before I had a chance to minister to him I noticed that his heart rate was getting faster and faster. And I saw that Uncle was almost gone.

My cousin Destie and I then talked to the attending doctor. He told us that there was damage to his heart’s ability to pump blood and that he would likely get a sudden heart attack. His condition seemed hopeless because only with the help of electric shocks could he regain consciousness. According to the doctor there was a medical device that could be implanted which would provide electrical shocks to his heart whenever it stopped beating. But that device was very expensive, costing about $17,000.

We were shocked. I thought about how expensive is our health. Because the device was so expensive we chose not to take that path.

Later in the afternoon, my uncle’s condition was getting worse. The doctor moved him to the Intensive Care Unit. There he was hooked up to different instruments.

A few moments later the doctor called us because the heart attacks were getting more and more frequent. He told us that my uncle’s condition was grave. They could not do anything more for him. He told us to prepare the family in case something should happen.

We went out to the waiting room to talk. By then two of my cousins were there and they began to weep.

Then the Lord led me to say to them, “according to the doctor, one side of your Dad’s heart is gone and there’s only 15% function left. So in my opinion there are only two possibilities. I said, “the first is that the Lord is calling your father home. The second is that the Lord will heal him miraculously. Nothing is impossible for Him.”

I said that if it is the first possibility, then we must now get ready and that Uncle must be prepared spiritually. He must really repent and believe on the Lord Jesus Christ. They were in agreement with me. I told them that I have to use the last few moments to share the gospel with him.

I told them that the second possibility could also come to pass. I would lay my hand on his heart and rebuke the heart condition. The problem was that Uncle was in ICU and we could not get to him.

But we were determined to see him even if we were not allowed in. Destie and I went into the ICU without permission---if we had asked permission it would have been denied. I asked my uncle to repent and to forgive others and to truly believe on Jesus as his Lord and Savior. My uncle agreed and said that he would forgive others in order to please the Lord.

I led him in a prayer of repentance and faith in Jesus. After that I laid my hand on his chest and took authority over the heart disease. I saw him smile and take a deep breath. It was clear that the Lord had touched him.

After that I returned to Bandung. After that Thursday his condition immediately improved and there were no more heart attacks. I kept in telephone contact with them. As of the date of the writing of this testimony---Wednesday, August 29, 2007---my uncle is well, healed through the Lord’s miracle. He was also healed spiritually as well and received eternal life. As a bonus he is able to continue to live his life even though he is 71 years old.

Going home I thought a lot about this incident. We can go at any time. We must share the gospel to people around us whether or not we are ready. If I was not willing to break into the ICU it would have turned out very differently.

We too can leave this life at any time. Let’s make the most of our time by sharing the gospel with them; miraculous signs will accompany those who believe. Nothing is impossible for God and for those who have faith.

You can do the same. You can share the gospel with those close to you who do not yet believe and heal infirmities in the name of Jesus. All glory to Him alone.


Below is the original testimony in Indonesian

Menerobos ICU untuk mujizat

Hari Minggu tanggal 20 Agustus 2007 lalu saya mendapat sms dari sepupu saya bahwa ayahnya yang juga paman saya kena serangan jantung dan sekarang dilarikan di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta.

Karena saya tinggal di Bandung saya tidak sempat membesuknya segera tapi hari Selasa pagi tangal 22 Agustus baru saya ke Jakarta.

Maksud saya sebelumnya adalah secepat mungkin mendoakannya supaya tidak terjadi hal yang lebih buruk. Tapi karena saya harus menguji sidang mahasiswa maka saya baru bisa ke sana kamis pagi tanggal 24 Agustus 2007. Saya teringat sewaktu Yesus sempat molor untuk dapat melayani Lazarus . Seperti Yesus saya mau beriman bahwa Tuhan akan melakukan sesuatu.

Sesampainya di rumah sakit saya mendapati bahwa Paman saya sudah cukup parah. Saya mendapat cerita bahwa sehari sebelumnya dia mendapat dua kali serangan jantung . Kejadiannya cukup parah sampai-sampai jantungnya sudah berhenti dan sudah tidak bernapas lagi. Dengan bantuan kejut listrik dia bisa kembali bernapas.

Belum sempat saya mendoakannya saya sudah melihat frekwensi serangan jantung sudah semakin cepat. Dan saya menemukan bahwa Paman itu sudah sekarat.

Saya dan Ibu Destie (nama dari sepupu saya) kemudian menghadap dokter ahli yang menjaga paman saya tersebut. Dokter itu menjelaskan bahwa telah terjadi kerusakan pada kemampuan memompa jantung sehingga dia bakal kena serangan jantung secara mendadak. Kondisinya sangat memprihatinkan karena hanya dengan pertolongan kejut listrik saaj dia bisa sadar lagi. Menurut dokter salah satu penemuan dunia kedokteran dalam kasus seperti ini tinggal satu yaitu membeli suatu peralatan semacam robot kecil yang ditaruh dalam tubuh. Alat itu secara otomatis memberi kejut listrik jika pasien kena serangan jantung dan jantungnya berhenti. Sayang alat tersebut sangat mahal , nilainya sekitar 160 juta rupiah.

Kami kaget , dan saya membayangkan begitu mahalnya harga kesehatan kita.

Karena alat itu sangat mahal kami tidak menyetujui untuk memakai alat tersebut.

Sore kondisi Paman saya semakin parah dan dokter memindahkannya ke ruang ICU . Di sana dia dikontrol penuh oleh suster dan dokter serta sudah ditempel berbagai alat recording secara penuh.

Beberapa saat kemudian karena serangan jantung semakin tinggi frekwensinya maka dpkter memanggil kami.

Dokter memberitahukan kami bahwa kondisi paman itu sudah sangat parah. Mereka tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Dokter memberitahukan supaya keluarga siap kalau-kalau terjadi sesuatu.

Kami keluar keluar tunggu dan mulai membahas. Kedua anak paman berdiskusi dengan saya. Mereka sudah mulai menangis.

Kemudian saya mendapat hikmat dari Tuhan untuk berkata demikian , "Papi kalian menurut dokter jantungnya sudah mati sebelah dan fungsinya tinggal 15 persen. Jadi menurut saya cuma ada dua kondisi."

Saya katakan selanjutnya, "Kondisi pertama adalah Papi kalian sudah saatnya dipanggil Tuhan. Kondisi kedua, hanya mujizat dari Tuhan lah yang dapat menyembuhkan. Tiada yang mustahil bagi Dia."

Saya mengatakan juga bahwa kalau kondisi pertama itu terjadi maka kita sekarang seharusnya sia-siap. yang paling penting adalah supaya paman mereka siap secara rohani. Dia perlu sungguh3 bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Mereka berdua setuju. Kemudian saya mengatakan bahwa saya harus mengambil kesempatan untuk menginjilinya dalam detik-detik terakhir.

Dan saya memberitahu mereka juga, kalau kondisi kedua memungkinkan terjadi. Jadi saya akan menumpangkan tangan dan mengusir penyakit jantung itu.

Permasalahannya Paman tersebut sudah berada dalam ruangan ICU dan kita tidak boleh mendekat lagi.

Akhirnya kita bertekad ke sana apapun yang terjadi walaupun kami harus menerobos masuk ruang ICU.

Saya dan Destie kemudian masuk ke ruang ICU tanpa permisi (karena kalau minta izin mungkin tidak akan diizinkan) dan saya meminta paman saya untuk bertobat dan mengampuni orang lain sertai percaya sungguh-sungguh bahwa Yesus adalah Tuhan Juruselamatnya. Paman mengiyakan dan mengatakan, "Ya memang saya harus mengampuni oran glain supaya berkendan kepada Tuhan."

Saya mendoakan pertobatan dan percaya sepenuhNya kepada Yesus. Setelah itu saya menumpangkan tangan pada bagian dada dan mengambil otoritas penuh atas sakit jantung tersebut.

Saya hanya perhatikan dia tersenyum dan menarik napas lega.. jelas Tuhan sudah menjamahnya.

Setelah itu saya pulang ke Bandung...

Sejak hari Kamis minggu lalu di mana saya mendoakan keselamatan dan mengusir sakit penyakitnya. Kondisinya langsung membaik dan tidak ada serangan jantung lagi.

Saya terus kontak lewat telepon tapi sampai saat ini saya menulis (rabu malam 29/8/2007) paman tersebut sudah membaik. Mujizat Tuhan turun atasnya.. Dia selamat secara rohani dan menerima keselamatan kekal dan juga dapat bonus masih bisa menjalani kehidupan walaup umurnya sudah 71 tahun.

Pulangnya saya banyak merenungkan kejadian tersebut. Saya sadar kita pun sewaktu-waktu dapat meninggal. Kita harus memberitahkan Injil kepada orang-orang sekitar kita kapanpun waktunya siap atau tidak siap. Kalau saya tidak berani untuk masuk menerobos ICu mungkin kejadianya akan lain.

Saya harap Saudara memahami bahwa kitapun dapat meninggal sewaktu-waktu. Pertanyaannya apa yang kita kejar saat ini? Jangan sia-siakan waktu untuk menginjili mereka yang belum percaya dan tanda-tanda ajaib akan menyertai mereka yang percaya. Tidak ada yang mustahil bagiu Tuhan dan bagi mereka yang percaya.

Saudara dapat melakukan yang sama, menginjili orang dekat kita yang belum percaya dan mengusir penyakit yang dideritanya di dalam Nama Yesus dan segala kemulian hanyalah bagi Dia.


Luke 10:9 "Heal the sick who are there and tell them,
'The kingdom of God is near you.’"