Other reports from Pastor Davy
Kesaksian dari Marganda Hutabarat di Facebook
(the
testimony of Brother Marganda Hutabarat who first opened the
door for The Elijah Challenge in Sumatra)
Sekitar 50 tahun lalu, ketika ia masih
muda, suatu malam saat berdoa di kamarnya, Morris Cerullo di datangi
hadirat
Tuhan dan kepadanya diperlihatkan suatu penglihatan akhir zaman.
Ia melihat sekumpulan besar manusia, dan dari langit tercurah hujan,
yang tampaknya lebih menyerupai minyak, membasahi mereka semua. Dan
ia merasakan gegap gempita yang besar. Lalu ia tanyakan pada Tuhan
apa arti penglihatan itu. Roh Kudus menjawab itu adalah urapan dasyat
pada Akhir Zaman yang akan dicurahkan kepada setiap orang kudus.
Lalu Morris Cerullo memperhatikan kumpulan besar itu dan melihat
begitu banyak golongan (denominasi) yang ada disana. Hal itu ia tanyakan
lagi pada Tuhan, sebab sepengetahuannya, selama ini Allah hanya memakai
satu denominasi saja untuk kegerakan rohani. Tuhan menjawab, bahwa
pada akhir zaman, banyak gereja akan dipulihkan dan turut mendapatkan
urapan juga. Kemudian ia memperhatikan lagi, dan tidak menemukan
seorangpun yang menjadi ‘Jenderal Besar’ yang berdiri
di depan. Ia bingung sebab selama ini Allah selalu menegakkan seorang
pahlawan rohani, generasi demi generasi. Tetapi Allah menjawab, kegerakan
Akhir Zaman itu akan dipimpin oleh Roh Kudus sendiri, dan Ia tidak
akan berbagi kemuliaan lagi dengan seorang pendeta yang termasyur.
Dr.
Cerullo menuliskan ulang penglihatannya itu sekitar tahun 1997,
dalam buku berjudul “Urapan Dasyat di Akhir Zaman”. Ia
berseru dan bernubuat bahwa kita (pembaca) akan dipakai Tuhan dengan
dasyat, untuk menyembuhkan orang-orang sakit dimana saja, di pasar,
di supermarket, di ladang, di kantor, dan tempat-tempat umum, sembari
memberitakan Injil keselamatan dari Kristus. Maka haruslah kita (pembaca)
mempersiapkan diri untuk semua itu. Demikianlah ia menuliskan semua
itu, dengan yakin, meski tanpa tahu apa yang akan terjadi setelah
itu.
Tahun
2000-an ini, Allah membangkitkan sebuah gerakan internasional bernama
Tantangan Elia atau The Elijah Challenge (TEC), yang misinya
ialah menularkan kuasa Allah ke gereja-gereja Tuhan di kota-kota
yang dikunjungi untuk mengadakan mukzizat-mukzizat kesembuhan dalam
nama Yesus sebagai perlengkapan dalam penginjilan. Mereka datang,
membuat seminar untuk meneguhkan iman hamba-hamba Tuhan untuk dapat
mengoperasikan kuasa Allah dalam nama Yesus, dan membuat praktek-praktek
iman dalam KKR yang selalu berhasil. Tahun demi tahun, gerakan
ini semakin menggurita dan menimbulkan kegairahan yang besar dimana-mana.
Kesaksian demi kesaksian sudah sangat banyak, dan dapat ditemukan
di internet, baik melalui situs resmi TEC, maupun situs-situs pribadi
para hamba Tuhan. Jemaat-jemaat biasa bangkit sebagai peyembuh-penyembuh
penuh kuasa hanya dengan memakai nama Yesus. Di India, orang-orang
mulai menginjili dengan mukzizat di halaman-halaman rumah penduduk,
di jalan-jalan, dengan busana sehari-hari. Saya dengar, tahun 2009
ini, di Brasil orang-orang pergi ke rumah-rumah penduduk dan menyembuhkan
orang-orang sakit yang ada disitu melalui mukzizat lantas memberitakan
Injil. Hal-hal yang sama terdengar dari belahan dunia yang lain.
Mukzizat kesembuhan menjadi sangat lumrah rasanya, dan bukan lagi
suatu peristiwa mencengangkan seperti belasan tahun lalu.
Dari
bukunya Brother William, orang pertama yang menggerakkan gerakan
TEC ini, saya mendapat kesan bahwa ciri-ciri pemimpin TEC ialah:
menjadi pribadi yang sederhana, sangat rendah hati, tidak ingin
terkenal, tidak ingin menjadi hamba Tuhan yang disebut jenderal
rohani. Mereka
mengusung kesatuan gereja, dan tidak fanatik pada doktrin-doktrin
denominasi tertentu. Mereka bersedia bagi semua gereja Tuhan,
baik aliran-aliran baru maupun lama.
Saya
menjadi terheran-heran dengan semua ini. Bagaimana mungkin? Apa
yang dinubuatkan Morris Cerullo telah dan sedang digenapi
Tuhan melalui The Elijah Challenge!!
Akhirnya
satu hal yang saya yakin sekali, AKHIR ZAMAN TELAH TIBA, dan gerakan
TEC akan semakin membesar ke seluruh dunia!
Perhatikanlah
dengan cermat, jika saudara tidak percaya.
Saya
menemukan buku Cerullo dan Brother William pada bulan Januari 2009
dari sebuah toko buku kecil di kota saya, Sibolga.
Setelah
itu, saya merasa seperti dibebani beban yang sangat berat,
yaitu keselamatan
kota dan daerah ini, Tapanuli. Saya sadar saya bukan siapa-siapa.
Hanya seorang muda, miskin, bukan orang penting dimanapun,
tidak dikenal orang, bukan penatua gereja, bukan pula seseorang
yang
telah berbuat banyak bagi Tuhan. Saya bahkan baru lepas
dari kehidupan duniawi serta kebiasaan-kebiasaan buruk seperti
rokok dan alkohol
baru satu tahun ini. Baru setahun inilah saya berkomitmen
untuk Tuhan.
Jadi tak ada satupun yang dapat saya lakukan bagi Tapanuli.
Saya terlalu kecil, tapi sekaligus terlalu rindu agar Tapanuli
di
lawat Tuhan. Saya mengasihi kampung halamanku ini, dan
tak ingin negeri
tercinta ini binasa ketika Yesus datang kedua kali. Beban
berat itu terus menggangguku. Malam demi malam saya hanya
dapat merintih-rintih
menangis di hadapan Tuhan. Dari atas gunung saya sering
berseru-seru agar Dia peduli pada kampung saya ini. Saya memohonNya
mengirimkan
banyak hamba Tuhan yang diurapi ke daerah ini.
Diam-diam
saya berharap agar Seminar Tantangan Elia (TEC) dapat datang ke
Sibolga. Tapi saya tahu itu mustahil bagi
saya. Saya
bukan siapa-siapa.
Tak seorangpun pendeta atau pembesar rohani yang mengenal
saya di kota ini. Saya hanya seorang diri, jadi alangkah
tidak masuk
akalnya
angan-angan itu. Tapi meski begitu, saya mulai mendoakannya
kepada Bapa di surga. Pelan-pelan, jalan mulai terbuka.
Saya berkenalan
dengan Pak Davy Hermanus di internet sejak bukan Februari
lalu. Beliau adalah koordinator misi TEC di Indonesia.
Suatu
ketika, kerinduan tersebut saya cetuskan pada gembala saya, Pdt.
Samsiar Sinaga. Dia antusias dengan gerakan itu, tapi nampaknya
tidak yakin dengan kehadiran TEC di Sibolga. Ia lantas menyampaikannya
pada komunitas pendeta sekota, dan tidak ada respon apapun. Maka
ia menghibur-hibur saya agar tidak kecewa dan melupakan saja kerinduan
itu saat ini. Sampai akhir April 2009, tak ada jalan terbuka, walau
sudah berbulan-bulan saya berdoa.
Puji
Tuhan! Siapa nyana, akhirnya seminar dan KKR The Elijah Challenge
dapat juga berlangsung di Sibolga 25-27 Juni lalu, melibatkan puluhan
hamba Tuhan, baik pendeta, pelayan dan penginjil. Davy Hermanus
membekali kami dengan pemahaman-pemahaman yang lebih membuka mata
rohani. Dibongkarlah
olehnya mengapa selama ini para hamba Tuhan gagal mengadakan mukzizat
kesembuhan, yakni ketidaktepatan saat berdoa. Saat mendoakan orang
sakit dengan kuasa, ternyata kita harus membuka mata dan berbicara
langsung kepada penyakit itu dengan penuh wibawa dalam nama Yesus,
mengusir dan menghardiknya supaya pergi, persis seperti yang dilakukan
Yesus. Lantas saya teringat pada kebiasaaan kami selama ini di
gereja yang mendoakan orang sakit dengan posisi menyembah dan berserah
pada
Allah, sambil memejam mata: “Bapa dalam nama Yesus, kami usir
penyakit ini, Bapa. Sembuhlah dalam nama Yesus. Ulurkanlah tanganMu
yang perkasa ya Bapa…” dan karena tak ada kesembuhan,
kami berkata: “Tuhan punya rencana sendiri”, atau “Imani
saja anda telah sembuh ya, permisi”. Saat mengusir setan, kami
juga melakukannya sambil berdoa: “Bapa, dalam nama Yesus, kami
usir setan ini pergi. Terima kasih Bapa yang baik…” dan
semacamnya.
Apa
yang terjadi setelah kami memakai metode seperti yang diajarkan
Pak Davy tersebut? Luar biasa! Orang lumpuh dapat berjalan, gagal
ginjal sembuh, tumor sembuh, yang tuli jadi mendengar, sakit
tulang belakang dan tak dapat membungkuk sembuh, yang tadinya tak
bisa
berjongkok karena sakit tulang kaki jadi sembuh, gangguan jantung
sembuh, sakit
kepala sembuh, bahkan batuk-batukpun sembuh, serta penyakit-penyakit
lainnya. Ibu saya juga sudah belasan tahun tak bisa mendengar
dengan baik. Kita harus berbicara dengan mikropon atau dengan suara
keras
paling tidak tiga kali, barulah ia mendengar. Telah puluhan kali
ia ke dokter sampai akhirnya jenuh. Sudah bertahun pula ia minta
kami membelikannya alat bantu pendengaran. Tapi puji Tuhan,
sejak 26 Juni kemarin, pendengarannya sudah sangat tajam! Mak Tua
saya
sudah berumur hampir 80 tahun. Jantungnya sudah sangat lemah
dan sering sakit di dadanya. Tapi kini dia segar bugar kembali!
Siapa
yang mendoakan orang-orang itu sehingga sembuh? Bukan Pak Davy,
tapi para peserta seminar tersebut. Ini memberi pengalaman
yang menggairahkan,
memberi semangat bagi penginjilan. Saya mendapat pengalaman
menompangkan tangan pada seorang bapak yang tuli sebelah. Saya
hanya katakan
pada telinga itu dengan mata terbuka: “Hai telinga, dalam nama Yesus,
terbukalah!” Dan sembuh! Itu adalah pengalaman pribadi saya
yang pertama. Luar biasa, sampai sekarang saya masih tak habis pikir,
wah…betapa dasyat nama Yesus ini!
Dan sekarang kami semua sedang dibakar gairah yang
sama, yaitu untuk menginjil. Saya berdoa kiranya kami diberi keberanian
yang lebih
besar untuk menginjil ke kampung-kampung pedalaman Tapanuli, Perlu
saudara ketahui, setiap kampung di Tapanuli ini adalah kampungnya
para dukun dan okultisme, serta para pemabuk. Banyak sekali kampung
disini yang kami namai “Parrasun”, dimana orang baru
yang belum dikenali akan dikirimi santet melalui makanan atau minuman
(racun gaib), dengan maksud mengetes apakah orang itu berilmu atau
tidak. Banyak orang mati atau sakit setelah keluar dari kampung seperti
itu dan saya tahu, seluruhnya harus diinjili.
Apa yang telah dilakukan TEC melalui Pak Davy Hermanus
di Sibolga mungkin masih kecil. tapi saya ingat pesan Brother William
kepadanya
: We thank the Lord for stirring the heart of brother Marganda in
Sibolga in such an amazing way! We hope that you and Pauline will
be able to visit him and teach The Elijah Challenge in his church.
Perhaps the Lord will use this to open many more doors of opportunities
for you and TEC in Indonesia. Dalam email, telah saya katakan juga
pada Pak Davy : Bola salju raksasa pada mulanya hanya sebesar kelereng.
Tapi diberkatilah orang yang telah melemparkan dan menggulirkannya.
Orang sering memandang remeh petani yang menanam benih durian yang
kecil. Tetapi waktu akan membuat benih kecil itu tumbuh menjadi pohon
raksasa yang tingginya sampai dua puluh meter! Diberkatilah petani
bernama Davy Hermanus tersebut. Surga akan mencatat riwayat kemenangan
berbagai-bagai kota di Indonesia dengan kalimat: “Ketika kota
ini belum bertobat, suatu hari seorang hamba Tuhan bernama Davy Hermanus
datang, melatih satu atau dua orang..dst.”
Kepada
saudaraku yang lain, di seluruh Indonesia, saya menganjurkan anda
untuk ikut mengambil Api itu, demi keselamatan kota dan daerah
saudara. Undanglah TEC ke kota anda. Satu hal yang saya ingin tekankan
disini: WAKTU BAGI KITA SUDAH HAMPIR HABIS. SEKARANGLAH AKHIR ZAMAN
ITU!!
Bao Panigoran
(Marganda Hutabarat)
Saya juga barusan menerima telepon dari Pendeta Veca Sonya Cristata.
Dia merupakan salah satu peserta seminar di mana istrinya mengalami
kesembuhan dari gagal ginjal dan sakit kaki.
Hari selasa tanggal 30 Juni 2009 dia di minta untuk menggantikan
pelayan Tuhan yang seharusnya melayani di penjara. Kemudian dia memberitakan
Injil Kerajaan Allah di pencara kepada ratusan orang narapidana.
Satu ketika dia bertanya siapa yang sakit dan kemudian beberapa orang
mengangkat tangan setelah itu dia menyembuhkan mereka dalam nama
Yesus. Karena kejadian ini semakin banyak yang mengatakan bahwa mereka
sakit dan dia menyuruh mereka bertobat dulu atas segala dosa dan
terutama mengampuni orang-orang lain . Narapidana ini mengakui semua
dan bertobat. Setelah itu puluhan orang yagn sakit disembuhkan oleh
mereka. Bahkan Pak Veca menyuruh mereka mempraktekan itu dalam kehidupan
sehari-hari.
Pak
Veca bersyukur telah mengikuti seminar dan istrinya mengalami kesembuhan
ilahi. Lebih dari itu pelayanannya semakin berani dan
berkuasa . Dia mengatakan ini waktunya untuk kita mentaati semua
perintah Tuhan bukan saja tentang kesembuhan yang mana gereja di
Sumut sudah tidak lakukan lagi.
Puji
Tuhan, banyak murid-murid baru telah dibangkitkan dalam pelayanan
di Sibolga.
Laporan
tentang apa yang terjadi dalam pelayanan Pdt. Veca Sonya Cristata
dari Sibolga setelah Training Tantangan Elia