TUHAN YESUS Yang Sembuhkan Saya
Liputan Seminar Tantangan Elia
Tuhan
Yesus yang sembuhkan saya. Saya menderita sakit di bagian-jari-jari
tangan saya selama 2 tahun. Jari-jari saya ini
kaku dan sangat sakit kalau disentuh, tetapi ketika didoakan tadi,
jari-jari saya ini jadi sembuh. Saya sudah tidak merasakan adanya sakit
di jari-jari saya lagi," demikian kesaksian seorang ibu muda yang
seluruh jari-jarinya kaku dan tidak bisa memegang sesuatu dengan baik.
Demikian salah satu dari sekian banyak kesaksian yang diberikan pada
seminar pelayanan orang percaya yang dibawakan oleh Tantangan Elia
dari Amerika. Mereka yang sudah melayani
Mesir dan Nigeria, mereka juga telah selama 9 tahun di Sanggau -
Kapuas,
Kalimantan Barat dari tahun 1978. Seminar dihadiri sekitar 450
orang dengan tema: “KuasaNya Menyembuhkan,” berlangsung
dari 21-23 Oktober 2004 di Auditorium Pondok Persaudaraan. Pada tanggal
23 malam, diadakan KKR dengan membawa orang-orang sakit untuk didoakan.
Orang-orang yang berdoa bagi orang sakit adalah mereka telah mengikuti
seminar sebelumnya, sehingga mereka diperlengkapi untuk melakukan
pelayanan orang percaya. Pada saat mengajarkan firman Tuhan sebagai
dasar untuk
mendoakan orang-orang sakit, Brother [...] mengatakan, "Orang-orang
percaya melayani orang sakit dengan 2 alasan, yakni (1). Otoritas.
Yesus memberikan otoritas kepada murid-muridNya untuk mengusir
setan-setan dan menyembuhkan penyakit. Meskipun mereka saat itu
belum dipenuhi
Roh Kudus, tetapi otoritas yang diberikan Yesus kepada muridNya
untuk mengusir roh jahat dan menyembuhkan orang sakit akan membuat
setan
takluk pada otoritas tersebut. (2). Karunia Kesembuhan. Setelah
Hari Pentakosta, murid-murid Yesus dipenuhi dengan Roh Kudus, sehingga
mereka
dapat mendoakan orang sakit untuk kesembuhan mereka. Biasanya pelayanan
dengan cara ini sangat instant, karena kesembuhan terjadi di mana-mana
tanpa campur tangan manusia."
Brother [...] memberitakan firman Tuhan sebelum mendoakan orang
sakit pada KKR malam, lalu ia mendoakan mereka yang sudah Kristen
tetapi
masih sakit. Pada saat itu, dua orang yang memakai kursi roda disembuhkan
Tuhan seketika. Mereka maju ke depan dan memberikan kesaksian mereka.
Kemudian ia mulai mendoakan orang-orang yang belum percaya kepada
Yesus, dengan melibatkan mereka yang sudah mengikuti seminarnya.
Ketika tantangan
diberikan bagi mereka yang sakit, ratusan orang maju ke depan untuk
didoakan. Dan pada saat itu semua peserta yang dilibatkan mulai
mendoakan orang-orang sakit.
Tiba-tiba kuasa Tuhan turun sehingga terjadilah kesembuhan kepada orang
sakit di mana-mana dan mereka mulai berdiri antrian untuk naik ke panggung
dan bersaksi. 2 orang buta yang tidak bisa melihat, berdiri di depan
mimbar dan membaca jari-jari tangan orang yang diangkat dari atas balkon.
Banyak orang yang berdesak-desakkan untuk bersaksi tentang kesembuhan
yang dialami dan derita. Seperti lever, ginjal, alergi, jantung, pernapasan,
dan berbagai kelemahan lainnya. Ketika bersaksi, mereka akan berkata, "TUHAN
YESUS YANG SEMBUHKAN SAYA." Selalu saja jawaban itu yang keluar
dari mulut mereka.
Melepas Impian Amerika demi Misi
Brother
[...] bersama isterinya [...], adalah misionari Amerika yang
melayani di Sanggau - Kapuas, Kalimantan Barat, selama
9 tahun.
Mereka melakukan ini karena hati mereka yang berkobar-kobar bagi
jiwa-jiwa yang terhilang. Di dalam bukunya berjudul, "Menari
di Tepian Bumi," Brother [...] menceritakan tentang pengalaman
bagaimana mereka mentaati panggilan Tuhan.
" Jadi, pada tanggal 10 Juli 1978, saya dan isteri saya meninggalkan Amerika
Serikat untuk mengejar impian kami. Kami rindu melihat kemuliaan
Tuhan. Dahulu Tuhan memberi tantangan kepada seorang bernama Abraham untuk
meninggalkan negerinya demi Kerajaan Allah. Demikian juga, kami
merasa bahwa Tuhan menantang kami untuk melangkah dari tanah yang datar-datar
saja ke air yang penuh iman. Kami menerima tantangan itu dan
kami
terjun ke dalam petualangan yang menggentarkan di dalam Roh, di mana di dalamnya
termasuk pelepasan Suk Mai yang luar biasa."
Apa yang Brother [...] dan isterinya lakukan tampaknya membingungkan
banyak orang termasuk keluarga mereka masing-masing. Tetapi hati
yang telah terbebani dengan misi karena merasa berhutang kepada
jiwa-jiwa yang terhilang, membuat mereka tidak dapat berdiam diri.
Lalu apakah
kita akan berdiam diri? Jika orang Amerika saja terbeban untuk
suku-suku di Indonesia, Bagaimana dengan kita? Apakah harga yang
harus kita
bayarkan
demi misi Tuhan tergenapi? Ada 3 tuntutan dari banyak tuntutan
lain:
1. HATI MISI MENUNTUT PENGORBANAN
Ketika mengajarkan tentang hati yang berfokus kepada misi, Yesus
berkata, "Barangsiapa
berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa
kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya," (Luk17:33). Bukan
hanya itu, Yesus masih memberikan yang lebih tegas lagi, kataNya, "Setiap
orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak
untuk Kerajaan Allah," (Luk 9:62). Artinya dalam menggenapi
tugas kita tentang misi, kita harus korban.
Brother [...] menceritakan pengalamannya demikian, "Pada tahun
1970, isteri saya terbang melesat dengan sayap impian - dengan
tujuan yang sama sekali berlawanan dengan arah yang sedang kami tuju
sekarang.
Pada usia 17 tahun, dibakar oleh ambisi jiwa muda untuk mempengaruhi
dunia, ia berangkat ke Amerika. Dengan kecerdasannya, ia berhasil
masuk ke Columbia University di New York, di tempat itulah kami bertemu.
Kini, isteri saya telah mencabut impiannya yang penuh gairah
akan kehidupan
dan meletakkannya di atas mezbah air mata, sebagaimana Abraham
juga pernah meletakkan Ishak di sana. Tangannya yang gemetar mencoba
menahan
tubuh pengharapan miliknya di Amerika, siap dibantai untuk mati
selamanya. Salah satu hal yang paling ia idam-idamkan ialah tinggal
di Amerika
selamanya dan menjadi warga negara Amerika. Namun panggilan Allah
yang ia jalani bersama saya memupuskan hasrat manusiawinya, dan kini
ia
terbang kembali melintasi Samudera Pasifik yang dahulu dianggapnya
tidak cukup lebar untuk memisahkannya dari tanah kelahirannya," (Menari
di Tepian Bumi, penerbit: Elijah Challenge Publishing, 2002,
hal. 15). Itulah hutang yang harus dibayar.
2. HATI MISI MENUNTUT PELEPASAN HAK KITA
Sebuah buku biografi yang bagus berjudul Jubah Kuning, terdapat kisah
hidup misionaries besar India bernama Sadhu Sundar Singh. Ayahnya
bernama Sirdar Sher Singh yang bertubuh tinggi, tetap, berjenggot
hitam dan
menjadi seorang tuan tanah dan kepala dari Bagian Negara Patiala,
India. Ia sadar bahwa Sundar Singh, anaknya akan melepaskan semua
warisan
itu untuk menjadi misionaries, membuatnya gelisah.
Lalu ia menulis sebuah surat kepada anaknya demikian, "Anakku
- kekasihku, cahaya mataku, jantung hatiku - kiranya umurmu panjang.
Kami semua sehat-sehat dan berharap kaupun sehat walafiat.... Aku minta
kau segera menikah.... Lakukanlah segera dan jangan mengecewakan kami....
Apakah agama Kristen mengajarkan ketidaktaatan terhadap orang tua?
.... Kau sudah gila! Pikirkan sejenak siapa yang akan mengurus harta
benda kita! Kalau kau bertunangan, aku akan mewariskan semua uang yang
sekarang ada dalam tiga bank; kalau tidak, kau akan kehilangan semua
yang telah kusediakan untukmu. .... Akan lebih baik bagimu kalau kau
pulang segera.... Aku tidak merasa sehat...,"(Cyryl J. Davey,
Jubah Kuning, penerbit: SCM Press Ltd., London, 1970, diterjemahkan
oleh Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF. Hal 32-33).
Sadhu Sundar Singh membalas, "Tidak, ayah. Aku tidak dapat melakukan
apa yang ayah minta.... Aku harus ikut Yesus, tapi harus dengan caraku
sendiri....
Aku harus mengikuti Dia di sini, di Rampur, bukan di Ludhiana, dikalangan anak-anak
yang tidak pernah benar-benar mengenalNya,(ibid). Ia telah melepaskan haknya
demi misi yang Tuhan berikan kepadanya. Bagaimana dengan kita? Apakah kita
memiliki hati misi?
3. HATI MISI MENUNTUT ADANYA PENYERAHAN TOTAL PADA PANGGILAN TUHAN
Kata Paulus, "Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan
diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin
orang. Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya
aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum
Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun
aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka
yang hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah
hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat,
sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum
Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum
Taurat. Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya
aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi
segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara
mereka. Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian
dalamnya,"(I Kor 9:19-23). Karena memiliki hati misi, maka semua celah
dapat oleh digunakan demi Injil.
Apakah kita mempunyai banyak alasan seperti di atas? Lihatlah pada Paulus yang
memiliki hati yang berkobar-kobar demi misi, sehingga semua celah dapat dipakai
demi Injil. Jikalau kita masih juga memiliki banyak alasan yang lain, maka
terimalah impartasi hati misi dari hamba-hamba Tuhan lain, agar hati kita dapat
terbakar
demi misi. Itulah sebabnya Yesus berkata, "Tidak ada kasih yang lebih
besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya,"(Yoh
15:13). Mari, kita lakukan sesuatu demi kasih kita kepada saudara-saudara kita
yang terhilang dari rumah Bapa.
