The Elijah Challenge in Jakarta, Indonesia with Abbalove Ministries, October 2004

 

TUHAN YESUS Yang Sembuhkan Saya

Liputan Seminar Tantangan Elia

Tuhan Yesus yang sembuhkan saya. Saya menderita sakit di bagian-jari-jari tangan saya selama 2 tahun. Jari-jari saya ini kaku dan sangat sakit kalau disentuh, tetapi ketika didoakan tadi, jari-jari saya ini jadi sembuh. Saya sudah tidak merasakan adanya sakit di jari-jari saya lagi,” demikian kesaksian seorang ibu muda yang seluruh jari-jarinya kaku dan tidak bisa memegang sesuatu dengan baik.

Demikian salah satu dari sekian banyak kesaksian yang diberikan pada seminar pelayanan orang percaya yang dibawakan oleh Tantangan Elia dari Amerika. Mereka yang sudah melayani Mesir dan Nigeria, mereka juga telah selama 9 tahun di Sanggau – Kapuas, Kalimantan Barat dari tahun 1978. Seminar dihadiri sekitar 450 orang dengan tema: “KuasaNya Menyembuhkan,” berlangsung dari 21-23 Oktober 2004 di Auditorium Pondok Persaudaraan. Pada tanggal 23 malam, diadakan KKR dengan membawa orang-orang sakit untuk didoakan.

Orang-orang yang berdoa bagi orang sakit adalah mereka telah mengikuti seminar sebelumnya, sehingga mereka diperlengkapi untuk melakukan pelayanan orang percaya. Pada saat mengajarkan firman Tuhan sebagai dasar untuk mendoakan orang-orang sakit, Brother […] mengatakan, “Orang-orang percaya melayani orang sakit dengan 2 alasan, yakni (1). Otoritas. Yesus memberikan otoritas kepada murid-muridNya untuk mengusir setan-setan dan menyembuhkan penyakit. Meskipun mereka saat itu belum dipenuhi Roh Kudus, tetapi otoritas yang diberikan Yesus kepada muridNya untuk mengusir roh jahat dan menyembuhkan orang sakit akan membuat setan takluk pada otoritas tersebut. (2). Karunia Kesembuhan. Setelah Hari Pentakosta, murid-murid Yesus dipenuhi dengan Roh Kudus, sehingga mereka dapat mendoakan orang sakit untuk kesembuhan mereka. Biasanya pelayanan dengan cara ini sangat instant, karena kesembuhan terjadi di mana-mana tanpa campur tangan manusia.”

Brother […] memberitakan firman Tuhan sebelum mendoakan orang sakit pada KKR malam, lalu ia mendoakan mereka yang sudah Kristen tetapi masih sakit. Pada saat itu, dua orang yang memakai kursi roda disembuhkan Tuhan seketika. Mereka maju ke depan dan memberikan kesaksian mereka. Kemudian ia mulai mendoakan orang-orang yang belum percaya kepada Yesus, dengan melibatkan mereka yang sudah mengikuti seminarnya. Ketika tantangan diberikan bagi mereka yang sakit, ratusan orang maju ke depan untuk didoakan. Dan pada saat itu semua peserta yang dilibatkan mulai mendoakan orang-orang sakit.

Tiba-tiba kuasa Tuhan turun sehingga terjadilah kesembuhan kepada orang sakit di mana-mana dan mereka mulai berdiri antrian untuk naik ke panggung dan bersaksi. 2 orang buta yang tidak bisa melihat, berdiri di depan mimbar dan membaca jari-jari tangan orang yang diangkat dari atas balkon. Banyak orang yang berdesak-desakkan untuk bersaksi tentang kesembuhan yang dialami dan derita. Seperti lever, ginjal, alergi, jantung, pernapasan, dan berbagai kelemahan lainnya. Ketika bersaksi, mereka akan berkata, “TUHAN YESUS YANG SEMBUHKAN SAYA.” Selalu saja jawaban itu yang keluar dari mulut mereka.

 

Melepas Impian Amerika demi Misi

Brother B. bersama isterinya, adalah misionari Amerika yang melayani di Sanggau – Kapuas, Kalimantan Barat, selama 9 tahun. Mereka melakukan ini karena hati mereka yang berkobar-kobar bagi jiwa-jiwa yang terhilang. Di dalam bukunya berjudul, “Menari di Tepian Bumi,” Brother […] menceritakan tentang pengalaman bagaimana mereka mentaati panggilan Tuhan.

” Jadi, pada tanggal 10 Juli 1978, saya dan isteri saya meninggalkan Amerika Serikat untuk mengejar impian kami. Kami rindu melihat kemuliaan Tuhan. Dahulu Tuhan memberi tantangan kepada seorang bernama Abraham untuk meninggalkan negerinya demi Kerajaan Allah. Demikian juga, kami merasa bahwa Tuhan menantang kami untuk melangkah dari tanah yang datar-datar saja ke air yang penuh iman. Kami menerima tantangan itu dan kami terjun ke dalam petualangan yang menggentarkan di dalam Roh, di mana di dalamnya termasuk pelepasan Suk Mai yang luar biasa.”

Apa yang Brother B. dan isterinya lakukan tampaknya membingungkan banyak orang termasuk keluarga mereka masing-masing. Tetapi hati yang telah terbebani dengan misi karena merasa berhutang kepada jiwa-jiwa yang terhilang, membuat mereka tidak dapat berdiam diri. Lalu apakah kita akan berdiam diri? Jika orang Amerika saja terbeban untuk suku-suku di Indonesia, Bagaimana dengan kita? Apakah harga yang harus kita bayarkan demi misi Tuhan tergenapi? Ada 3 tuntutan dari banyak tuntutan lain:

1. HATI MISI MENUNTUT PENGORBANAN
Ketika mengajarkan tentang hati yang berfokus kepada misi, Yesus berkata, “Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya,” (Luk 17:33). Bukan hanya itu, Yesus masih memberikan yang lebih tegas lagi, kataNya, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah,” (Luk 9:62). Artinya dalam menggenapi tugas kita tentang misi, kita harus korban.

Brother […] menceritakan pengalamannya demikian, “Pada tahun 1970, isteri saya terbang melesat dengan sayap impian – dengan tujuan yang sama sekali berlawanan dengan arah yang sedang kami tuju sekarang. Pada usia 17 tahun, dibakar oleh ambisi jiwa muda untuk mempengaruhi dunia, ia berangkat ke Amerika. Dengan kecerdasannya, ia berhasil masuk ke Columbia University di New York, di tempat itulah kami bertemu. Kini, isteri saya telah mencabut impiannya yang penuh gairah akan kehidupan dan meletakkannya di atas mezbah air mata, sebagaimana Abraham juga pernah meletakkan Ishak di sana. Tangannya yang gemetar mencoba menahan tubuh pengharapan miliknya di Amerika, siap dibantai untuk mati selamanya. Salah satu hal yang paling ia idam-idamkan ialah tinggal di Amerika selamanya dan menjadi warga negara Amerika. Namun panggilan Allah yang ia jalani bersama saya memupuskan hasrat manusiawinya, dan kini ia terbang kembali melintasi Samudera Pasifik yang dahulu dianggapnya tidak cukup lebar untuk memisahkannya dari tanah kelahirannya,” (Menari di Tepian Bumi, penerbit: Elijah Challenge Publishing, 2002, hal. 15). Itulah hutang yang harus dibayar.

2. HATI MISI MENUNTUT PELEPASAN HAK KITA
Sebuah buku biografi yang bagus berjudul Jubah Kuning, terdapat kisah hidup misionaries besar India bernama Sadhu Sundar Singh. Ayahnya bernama Sirdar Sher Singh yang bertubuh tinggi, tetap, berjenggot hitam dan menjadi seorang tuan tanah dan kepala dari Bagian Negara Patiala, India. Ia sadar bahwa Sundar Singh, anaknya akan melepaskan semua warisan itu untuk menjadi misionaries, membuatnya gelisah.

Lalu ia menulis sebuah surat kepada anaknya demikian, “Anakku – kekasihku, cahaya mataku, jantung hatiku – kiranya umurmu panjang. Kami semua sehat-sehat dan berharap kaupun sehat walafiat…. Aku minta kau segera menikah…. Lakukanlah segera dan jangan mengecewakan kami…. Apakah agama Kristen mengajarkan ketidaktaatan terhadap orang tua? …. Kau sudah gila! Pikirkan sejenak siapa yang akan mengurus harta benda kita! Kalau kau bertunangan, aku akan mewariskan semua uang yang sekarang ada dalam tiga bank; kalau tidak, kau akan kehilangan semua yang telah kusediakan untukmu. …. Akan lebih baik bagimu kalau kau pulang segera…. Aku tidak merasa sehat…,”(Cyryl J. Davey, Jubah Kuning, penerbit: SCM Press Ltd., London, 1970, diterjemahkan oleh Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF. Hal 32-33).

Sadhu Sundar Singh membalas, “Tidak, ayah. Aku tidak dapat melakukan apa yang ayah minta…. Aku harus ikut Yesus, tapi harus dengan caraku sendiri…. Aku harus mengikuti Dia di sini, di Rampur, bukan di Ludhiana, dikalangan anak-anak yang tidak pernah benar-benar mengenalNya,(ibid). Ia telah melepaskan haknya demi misi yang Tuhan berikan kepadanya. Bagaimana dengan kita? Apakah kita memiliki hati misi?

3. HATI MISI MENUNTUT ADANYA PENYERAHAN TOTAL PADA PANGGILAN TUHAN
Kata Paulus, “Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka. Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya,”(I Kor 9:19-23). Karena memiliki hati misi, maka semua celah dapat oleh digunakan demi Injil.

Apakah kita mempunyai banyak alasan seperti di atas? Lihatlah pada Paulus yang memiliki hati yang berkobar-kobar demi misi, sehingga semua celah dapat dipakai demi Injil. Jikalau kita masih juga memiliki banyak alasan yang lain, maka terimalah impartasi hati misi dari hamba-hamba Tuhan lain, agar hati kita dapat terbakar demi misi. Itulah sebabnya Yesus berkata, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya,”(Yoh 15:13). Mari, kita lakukan sesuatu demi kasih kita kepada saudara-saudara kita yang terhilang dari rumah Bapa.

 

 

About The Elijah Challenge

Check Also

P1030512

85 people accept Jesus Christ at Ghurhar Sarai in Punjab, India

85 Punjabis accept Jesus Christ as their Lord and Savior at indoor evangelistic event in …